Sabtu, 12 Mei 2012

Mentawarkan Kesedihan



Ada banyak kesedihan yang harus ditawarkan dalam setiap perjalanan kehidupan. Bahkan pun gembira harus ditawarkan, agar tidak menjadi terlalu manis, asin, ataupun pahit. Kebanyakan orang tidak pernah mentawarkan diri mereka kepada kebahagian, seperti manis yang selalu hidup di dalam diri kita. Kita terus mengkonsumsi manisnyaa kehidupan sehingga tidak punya ruang untuk mengingat bahwa dalam setiap episode, ada namanya kesedihan.
Kesedihan seringnya datang dengan berbagai rasa. Aku kadang merasakannya sebagai suatu yang pahit, lebih pahit dari obat. Kadang asin, lebih asin dari lautan ataupun tambang garam. Kadang serupa manis yang keterlaluan.
Banyak yang bingung. Bagaimana kesedihan mampu datang dalam bentuk yang begitu manis. Kadang, dalam suatu rasa kesedihan, ada sebuah rasa seperti mendapatkan berita baru dalam suatu kehidupan. Menambahkan satu poin kebijakan dalam memandang hidup ini. Aku memberikan rasa manis terhadap kesedihan yang demikian. Manis yang keterlaluan.
Namun, apa yang aku rasakan saat ini belum mampu aku jabarkan. Dalam kategori manakah kesedihan yang sedang berlangsung ini. Apakah dia akan menjadi sesuatu yang aku sebut pahit, ataukah asin, atau mungkin jika kelak di ujung aku akan menyebutkan sebuah rasa manis yang ditawarkan kehidupan oleh rasa luka.
Seminggu belakangan, aku pernah membaca novel dari Paulo Chelho yang dalam salah satu babnya berkisah tentang sadomasokisme, di mana kesakitan, kepedihan, terluka, menjadi jalan bagi orang-orang untuk menemukan kenikmatan. Beberapa orang agar merasa dekat dengan Tuhan, mereka mulai mencambuki diri mereka sendiri. Hingga pada suatu titik, mereka menemukan kenikmatan dalam setiap luka.
Tetapi aku bukan orang yang menemukan kenikmatan dalam setiap luka yang menganga. Walau mungkin, nanti, aku menemukan manis yang diajarkan Tuhan dalam perih kaki yang merangkak melintasi sahara, atau mungkin menapaki belukar yang penuh duri. Terkadang, Tuhan sering bercerita lewat luka-luka yang menganga.
Aku teramat berharap. Dia menghubungiku. Lantas memintaku menjawab “mengapa aku tidak ingin mengganggunya lagi?” atau mungkin dia akan merengek bahwa saat itu jiwanya sedang labil dan dia tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Aku teramat berharap. Di mana, pada jawaban pertama aku akan bercerita tentang gundah hati yang aku rasakan, dan pada jawaban kedua aku ingin dia tidak mengulangi lagi setiap keinginan yang demikian.
Aku selalu mencoba menjadi sesempurna apa yang dia inginkan walau seluruh dunia berkata:TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA, aku tetap akan mencoba. Paling tidak, dengan menawarkan diri dan janji untuk tidak akan menyakitinya, setia, dan bertanggung jawab.
Menulis ini, hatiku teramat pedih. Mencintainya membuat aku berefleksi terhadap setiap keinginannya hingga pada satu konklusi aku merasa dia tidak ingin diganggu olehku.
Aku tidak mengerti, apa sebenarnya yang diinginkan oleh manusia. Ketika mereka meminta cinta kepada Tuhan, mereka tidak puas, mereka meminta yang lain, mereka juga meminta kebencian. Mereka ingin melihat, bagaimana ketika Tuhan benci kepada mereka. Namun, Tuhan tidak pernah membenci.
Bukankah engkau sering mendengar: Tuhan tidak mengabulkan apa yang engkau minta, tetapi Dia memberikan apa yang engkau butuhkan. Yang terbaik bagimu.
Aku pun tiada pernah membencimu. Yang sedang aku rasa adalah kesedihan yang mendalam. Andai engkau tahu.
Kesedihan yang bagaimana yang datang, ketika engkau menuliskan berita dagumu mulai berketar. Tanganmu dingin, dan juga gemetar. Bibirmu mulai tergigit, lantas air mata jatuh tanpa tahu kapan dia akan usai. Dan gemuruh di dadamu begitu bertalu. Engkau merasakan panas yang sangat. Hatimu seperti terbakar api yang engkau pun tidak tahu entah bagaimana cara memadamkannya.
Aku menunggumu di sini. Dengan cinta dan rindu yang masih sama. Untuk mendengarkan sebuah kabar, bahwa engkau ingin kembali diganggu. Aku menunggu. Sembari, mencoba: MENAWARKAN KESEDIHAN.

Kamis, 10 Mei 2012

..Nelangsa ;((

..meski tak terlambat namun aku tlh terlanjur, 
trlanjur merelakan kerasnya hatiku.. 
Trlnjur mmbiarkan aku trjebak pd keadaan yg seakan mmbahagiakan ini.. 
Kau lebih dri sekedar tega syg..kau hancurkan hrapanku yg semu itu, 
secara prlahan kau bwt seakan sgalanya benar2 mnjdi mnyakitkan.. 

Aku yg trluka..krna kau hembuskan hawa penghianatan ituu, 
trlnjur memang!! 
Aku rapuh.. 
aku tak ingin hnya skedar bergelayut pd harapan hampa ini, 
biarkan tulus ku melupakan sakit ku.. 
Rasaku tlah berlebih pada angkuhnya hatimu.. 

Lantas kini..temukan cara bagi ku utk bisa lepas dari berlebihnya rasa utkmu, 
sakiti aku dgn lebih..agar aku jatuh dgn kerasnya hingga tak ada cinta yg tersisa utkmu.. 
airmataku trlalu brhrga utk menangisimu dihatiku memang, hingga utk berdusta pun aku tak mampu!!

Rabu, 09 Mei 2012

Membela Radikalisasi Perlawanan Rakyat Pekerja Sekarang



                   MASIH segar dalam ingatan kita pada bulan Desember 2011, ratusan warga di Mesuji, Sumatera Selatan, melakukan penyerangan terhadap perusahaan Kelapa Sawit yang merupakan ekspresi dari ketidakpuasan warga terhadap operasionalisasi perusahaan tersebut yang hanya menguntungkan segelintir orang disana.  Di Bima, NTB, ratusan warga memblokade Pelabuhan Sape sebagai bentuk protes terhadap konsesi pertambangan yang diberikan Bupati terhadap perusahaan tambang tertentu. Pada bulan awal tahun ini, tepatnya pada 12 Januari 2012, Jakarta diguncang oleh demonstrasi besar gerakan rakyat. Dengan tuntutan “Pulihkan Hak-hak Rakyat Indonesia”, ribuan massa dari sektor gerakan rakyat seperti kalangan tani, buruh, mahasiswa, bahkan perangkat aparatur pedesaan melakukan demonstrasi di depan istana dan juga di depan gedung DPR. Dalam waktu rentang waktu yang tidak terlalu jauh, puluhan bahkan ratusan ribu massa buruh di Tangerang dan Bekasi melakukan pemblokiran jalan tol sebagai bentuk tuntutan mereka kepada Bupati setempat untuk segera menaikkan nominal angka Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang dirasa tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan buruh. Peristiwa-peristiwa yang dicuplik hanya sebagian dari banyak peristiwa perlawanan rakyat yang banyak terjadi diberbagai daerah di Indonesia.
                   Berkaitan dengan konflik antara pekerja dengan perusahaan, Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke 19 di Eropa dimana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkhis, dan borjuis melakukan eksploitasi terhadap proletar dalam sistem produksi kapitalis. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis, false consiousness, dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan dan cita-cita akhirat.

                   Apa yang dapat disimpulkan sementara dari berbagai persitiwa yang terjadi dalam reantang waktu yang sangat berdekatan tesebut adalah rakyat pekerja Indonesia tengah bergerak berlawan. Rakyat pekerja indonesia semakin eksplisit untuk  mengartikulasikan tuntutan serta ketidaksetujuan mereka terhadap berbagai kebijakan negara, yang banyak dirumuskan pada tingkatan local, yang pada dasarnya tidak banyak menguntungkan kepentingan mereka. tuntutan serta ketidak setujuan mereka yang eksplisit ini membuat mereka harus menempuh langkah-langkah beresiko yang radikal yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya dalam rangka mendapatkan perhatian penuh dari system politik yang ada.
                   Artikel ini pada dasarnya adalah sebuah pembelaan penuh atas radikalisasi perlawanan rakyat yang tengah terjadi sekarang ini artikel ini berargumen bahwa radikalisasi perlawanan sekarang adalah krusial untuk menghindarkan masyarakat Indonesia dari ancaman krisis kapitalisme yang sekarang tengah menghantui dunia, sekaligus sebagai momen yang penting untuk mendorong politik anti kapitalisme-neoliberal di Indonesia. Apa yang harus dipahami adalah persitiwa-persitiwa ini tidak muncul dalam ruang vakum. Peristiwa-peristiwa ini muncul dalam relasi ekonomi politik yang kontradiktif dimana kelas-kelas sosial dalam masyarakat saling berjuang untuk mengontrol produksi dan distribusi dalam proses ekonomi yang ada. Struktur ekonomi politik yang kontradiktif ini dapat ditelusuri akarnya pada cara mengakumulasikan kekayaan di Indonesia yang kemudian berujung pada pertumbuhan ekonomi secara nasional.

Membongkar Mitos Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
                   Di Indonesia, seringkali penjelasan mengenai proses pertumbuhan ekonomi lebih mirip cerita mitos dewa-dewi Yunani dibandingkan sebagai penjelasan yang ilmiah tentang realitas sosial. Berangkat dari statistic empiric bahwa ekonomi Indonesia berjalan sangat baik, yang pada tahun 2011 berada diangka 6.5%, para pendukung rezim sekarang akan menyatakan bahwa pertumbuhan sekarang telah mampu untuk mensejahterakan banyak kehidupan masyarakat Indonesia. Penjelasan ini ini berangkat dari asumsi bahwa pertumbuhan yang tinggi tidak mungkin akan menciptakan ketidakpuasan sosial karena adanya efek kekayaan yang “mengucur kebawah” (trickles down effect). efek ini sendiri disebabkan oleh karena semakin membesarnya “kue pembangunan” yang kemudian secara simultan akan mengucur ke semua actor ekonomi. Pembesaran kue pembangunan ini, dalam pandangan mereka, adalah hasil dari kecerdikan aktor-aktor ekonomi Indonesia dalam kompetisi pasar global. Kemampuan para actor ekonomi Indonesia yang ada untuk mengambil kesempatan dalam ceruk pasar global melalui maksimalisasi pertukaran permintaan-penawaran adalah determinan bagi pertumbuhan ekonomi IndonesiaBdengan kata lain, efek mengucur dari “kue pembangunan” yang besar ini merupakan insentif atas kelihaian para actor ekonomi Indonesia.
                   Mistifikasi ekonomi dalam argumentasi para pendukung rezim SBY-Boediono (baca: rezim kapitalisme-neoliberal) terhadap proses ekonomi yang berlangsung di Indonesia tidak terlepas dari kepercayaan mereka bahwa ekonomi selalu steril dari aspek politik dan juga aspek sosial. Pandangan ini tentu saja adalah pandangan yang salah karena pada kenyataanya ekonomi selalu berkeliat kelidan dengan politik. Produksi di bidang ekonomi hanya akan dimungkinkan ketika ada pengorganisiran pembagian kerja (division of labor) yang telah ditentukan sebelumnya dalam relasi kekuasaan yang ada. Dengan menyatakan bahwa ekonomi bekerja tanpa adanya  hubungan dengan relasi politik adalah sama anehnya dengan mengatakan bahwa gajah memiliki sayap untuk terbang di langit.
                   Lalu, bagaimana kita dapat memahami pertumbuhan ekonomi sekaligus memperhatikan adanya ketidakpuasan sosial yang membuat terjadinya radikalisasi perlawanan rakyat pekerja? Dalam memahami ekonomi Indonesia yang tengah bertumbuh sekaligus kontradiksi sosial yang diciptakan olehnya, menurut hemat penulis, dapat ditelusuri dengan pertanyaan mengenai bagaimana modus akumulasi keuntungan yang dilakukan oleh rezim kekuasaan sekarang. Maksud penulis mengenai modus akumulasi adalah mengenai pola produksi dan konsumsi yang direproduksi dalam periode proses ekonomi kapitalisme itu sendiri. argumentasi dengan melihat struktur ekonomi berdasar pada modus akumulasinya karena tujuan ekonomi dalam kapitalisme adalah motif untuk keuntungan dan maksimalisasi atas keuntungan. Modus akumulasi adalah upaya untuk mengidentifikasi bagaimana keuntungan diakumulasikan dalam pola produksi dan konsumsi dalam rentang periode ekonomi kapitalis tersebut.
                   Ketegangan hubungan produksi dalam sistem produksi kapitalis antara kelas borjuis dan proletar mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan hubungan produksi terjadi ketika kelas proletar telah sadar akan eksploitasi borjuis terhadap mereka. Sampai pada tahap ini Marx adalah seorang yang sangat yakin terhadap perubahan sosial radikal, tetapi lepas dari moral Marx, esensi akademiknya adalah realitas kekuasaan kelas terhadap kelas lain yang lemah, konflik antar kelas karena adanya eksploitasi itu, dan suatu perubahan sosial melalui perjuangan kelas, dialektika material, yang sarat konflik dan determinisme ekonomi.
Dalam Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.
                   Konsekuensi logis dari hal proses integrasi ini adalah perdagangan internasional menjadi memiliki peranan yang krusial dalam proses ekonomi. Data BPS yang dirilis pada tanggal 7 Januari 2012 menunjukan bahwa laju pertumbuhan menurut penggunaan ekonomi Indonesia pada Triwulan III tahun 2011 yang mencapai 6,5% yang secara signifikan dikontribusikan oleh adanya surplus perdagangan (dalam artian nilai ekspor indonesia melebihi nilai impor, red). Kontribusi surplus perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai angka 3,3% Disini dapat disimpulkan bahwa perdagangan internasional menjadi dasar bagi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. 
                   Walau secara tradisional Indonesia masih melakukan ekspor migas, namun besaran nilai ekspor migas relative kecil jika dibandingkan dengan nilai ekspor nonmigas. Menurut Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, kontribusi ekspor industri nonmigas adalah 61% terhadap total ekspor 2011 mencapai angka USD 208 miliar.Dalam Neraca Laporan Pembayaran Bank Indonesia Realisasi triwulan III 2011, setidaknya sampai dengan November 2011, terdapat tiga komoditas utama yang berkontribusi besar terhadap nilai ekpor adalah batubara sebesar 15.5%, minyak sawit 10.2% dan karet 9.1%. menariknya, tiga komoditas ini adalah komoditas yang berbasiskan pada industri ekstraksi yang tergantung pada sumber daya alam.
                   Dalam hal inilah kita dapat melihat modus utama dari proses akumulasi kapitalisme yang terjadi di Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonominya melibatkan dua komponen utama dari kekayaan masyarakat Indonesia yakni sumber daya alam dan sumber daya manusia. Modus akumulasi pertama dilakukan melalui industri ekstraksi yang sumber kuntungannya berasal dari sumber daya alam. Dalam modus akumulasi ini, keberadaan lahan luas dan banyak adalah prasyarat utamanya. Akan tetapi semenjak akumulasi tidak selalu sesuai dengan kebutuhan sosial manusia, seringkali cara yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan lahan ini adalah dengan melakukan apa yang disebut David Harvey dengan, “akumulasi melalui perampasan”. Proses akumulasi ini ditandai dengan pengusiran banyak manusia dari tanah atau lahan tempat mereka berdiam sebelumnya atas nama teritorialisasi relasi produksi kapitalisme. Tidak heran jika selama proses pertumbuhan ekonomi di Indonesia, kita akan menemukan banyak menemukan konflik yang terkait dengan masalah jenis akumulasi seperti ini. Dari kasus Alas Tlogo sampai dengan kasus Mesuji dan insiden Pelabuhan Sape, Bima adalah kasus-kasus yang memiliki basis material dari bentuk modus akumulasi yang pertama ini.
                   Secara ekonomi, Tingginya angka pengangguran akan berimplikasi pada tekanan atas tingkat upah karena dalam pasar tenaga kerja penawaran (supply) atas pekerja yang tersedia sangat banyak berbanding terbalik dengan permintaan (demand) pekerja oleh industri.Mekanisme spontan yang biasanya dilakukan oleh para pengaggur untuk dapat bertahan hidup adalah dengan membuka inisiatif ekonomi baru yang sifatnya informal. Namun upaya paling sistematis untuk mengatasi pengangguran sekaligus tetap memastikan bahwa proses akumulasi melalui apropirasi serta eksploitasi sumber daya manusia tetap dimungkinkan adalah dengan menciptakan rezim pasar tenaga kerja fleksibel. Mekanisme ini tetap memastikan bahwa penganggur-penganggur yang ada memiliki akses ke dalam relasi ketenagakerjaan, namun sekaligus mereka tidak akan dapat mempengaruhi tingkat upah yang ada karena jika ada tuntutan untuk kenaikan upah, para kapitalis dapat secara mudah mengganti mereka dengan penganggur yang lain.

                   Tekanan atas tingkat upah pekerja menghasilkan kurangnya permintaan efektif di antara para pekerja di Indonesia. Cara yang paling mungkin untuk dapat bertahan sekaligus tetap memastikan bahwa roda ekonomi secara keseluruhan masih dapat bekerja melalui konsumsi rumah tangga adalah para pekerja harus mengambil hutang untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka.

                   Apa yang dapat disimpulkan pembongkaran mitos pertumbuhan ekonomi disini adalah modus akumulasi keuntungan dalam fase kapitalisme sekarang dilakukan melalui eksploitasi massif atas dua sumber utama nilai kesejahteraan, yakni sumber daya alam serta sumber daya manusia indonesia. Kapitalisme yang berlaku sekarang memang menciptakan pertumbuhan, tapi pertumbuhan ini dilakukan melalui penghisapan nilai yang terkandung dari alam dan juga pekerja. Dengan kata lain, radikalisasi perlawanan rakyat pekerja sekarang adalah sahih dalam rangka merebut kembali nilai yang selama ini dicuri oleh kelas kapitalis indonesia dalam bentuk keuntungan yang mereka dapatkan dan nikmati.
Perjuangan Kelas di Masa (Ancaman) Krisis Kapitalisme
                   Radikalisasi perlawanan rakyat pekerja yang terjadi sekarang ini adalah konsekuensi logis dari struktur ekonomi politik dimana rakyat pekerja dihisap serta dieksploitasi atas nama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perlawanan ini tentu saja memiliki dimensi kelas yang sangat kuat karena rakyat pekerja yang berlawan mulai mempertanyakan relasi ekonomi politik yang timpang ini dimana pertumbuhan ekonomi yang terjadi hanya memberikan keuntungan bagi segelintir kelas kapitalis di Indonesia. Apa yang menarik untuk diperhatikan adalah radikalisasi perlawanan rakyat pekerja direspon balik oleh para kapitalis di negeri ini dimana para kapitalis secara terang-terangan menolak tuntutan rakyat pekerja ini sembari secara sistematis melakukan serangan balik terhadap rakyat pekerja. Disini kemudian dapat dilihat perjuangan kelas tengah berlangsung dalam penampakannya yang paling konkrit.
                   Terjadinya respon reaksioner oleh  kelas kapitalis terkait tuntutan rakyat pekerja sebenarnya sangat terkait dengan konteks krisis kapitalisme yang terjadi sekarang. Ancaman krisis kapitalisme semakin nyata untuk terjadi di Indonesia semenjak sampai dengan artikel ini ditulis, belum tampak tanda-tanda yang meyakinkan bahwa krisis kapitalisme yang terjadi di AS dan Zona Eropa akan dapat ditanggulangi dalam waktu dekat. Implikasinya bagi Indonesia, tepatnya kelas kapitalis Indonesia, adalah komoditas hasil produksi mereka terancam tidak terserap di pasar-pasar utama yang ada di AS dan Zona Eropa. Kecenderungan ini dapat dilihat dari pernyataan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia yang memperkirakan bahwa nilai ekspor industri pengolahan nonmigas akan mencapai USD125 miliar pada tahun ini yang berarti jumlah itu mengalami penurunan 0,8% dibandingkan tahun lalu yang mencapai USD126,5 miliar. Dapat dilihat bahwa krisis akan mengancam keuntungan yang selama ini mereka nikmati.
                   Bagi kelas kapitalis, kondisi ini tentu saja adalah suatu ancaman bagi mereka. ada dua bentuk antisipasi yang akan dilakukan oleh kelas kapitalis domestic yang tergantung dengan pasar global yang pertama adalah melakukan diversifikasi pasar dan melakukan penguatan pasar domestic dalam menyerap hasil produksi mereka. Upaya untuk melakukan diversifikasi pasar dapat dikatakan upaya yang sulit karena dalam kondisi krisis yang terjadi di negara-negara Maju (baca: AS dan Zona Eropa), tiap negara di dunia juga berlomba-lomba untuk melakukan diversifikasi. Tidak heran jika disini terjadi kompetisi antara upaya Indonesia dengan negara-negara lain yang kemudian memaksa komoditas Indonesia untuk memiliki harga yang kompetitif. Bagi para kapitalis, pilihan untuk tetap memastikan produk mereka lebih kompetitif dibanding negara lain adalah dengan melakukan efisiensi dalam proses produksi mereka.
Penutup: Mengembalikan Politik Kelas di Indonesia
            Stratifikasi tidak hanya dibentuk oleh ekonomi melainkan juga prestige (status), dan power (kekuasaan/politik). Konflik muncul terutama dalam wilayah politik yang dalam kelompok sosial adalah kelompok-kelompok kekuasaan, seperti partai politik. Weber melihat persoalan wewenang dalam kerangka politik diperebutkan oleh partai-partai. Pengaruh pemikiran Weber ini akan banyak kita lihat dalam pemikiran Ralf Dahrendorf. Pemikiran Marx cenderung determinis dan Weber cenderung masuk ke subyektivisme, kemudian di Perancis pada kurun waktu yang sama Emile Durkheim memberikan perhatian di luar pemikiran Marx dan Weber, pada apa yang disebutnya sebagai social fact atau fakta sosial.

                   Fakta sosial bersifat exteriority, yang diluar atau eksternal, dan mendesakkan kehendaknya kedalam diri individu-individu. Individu bergerak atas dasar nilai sosial yang eksternal, di luar dirinya dan memaksa dalam bertindak. Hal ini adalah suatu aturan yang tidak tertulis, unwritten, dan merupakan pembahasan sosiologi ilmiah. Konsepsi sosiologis Durkheim dapat dipahami melalui pembuktiannya tentang suicide, yang secara umum ia membagi masyarakat kedalam masyarakat mekanik dan organik. Masyarakat mekanik mempunyai conscience collective, kesadaran umum, yang mendasari tindakan-tindakan yang bersifat kolektif. Kesadaran umum dapat juga sebagai moral bersama yang koersif pada setiap anggota-anggotanya. Suicide dalam masa ini berdasarkan kesadaran umum

                   Jika memang ada hal yang harus didorong lebih jauh dari radikalisasi perlawanan rakyat pekerja sekarang, menurut hemat penulis, adalah dengan menjadikan perlawanan ini menjadi perlawanan politis yang sistematis. Kepentingan kelas kapitalis di Indonesia hanya akan mampu untuk direalisasikan ketika negara dikuasasi oleh kelas kapitalis itu sendiri. dalam hal ini, perlawanan rakyat pekerja harus mulai mensasarkan tujuan strategisnya ke politik negara. kekuasaan politik yang dikuasai oleh rakyat pekerja lebih memungkinkan untuk memaksakan serta merealisasikan tuntutan ekonomi politik yang berdasar pada redistribusi ekonomi. Suatu hal yang sangat krusial untuk mencegah terjadinya krisis di Indonesia.
                   Yang penting untuk dicatat dari karakter perlawanan rakyat sekarang adalah relasi ekonomi politik sekarang memungkinkan untuk terjadinya pertemuan serta penyatuan kekuatan rakyat pekerja dari berbagai sector ekonomi yang ada. Dari buruh, petani, penganggur, miskin kota, dan seluruh rakyat pekerja yang dieksploitasi dalam system ekonomi yang ada. Hal ini tentu saja adalah suatu tantangan sekaligus peluang yang sangt baik untuk mengembalikan politik kelas di Indonesia, bentuk politik yang sempat ada dalam pengalaman kesejarahan kita sebagai bangsa namun dihancurkan secara bengis oleh kekuatan kapitalis nasional di masa lampau. Yang diperlukan sekarang untuk ditanyakan sekaligus dijawab adalah bagaimana bentuk pengorganisiran politik yang harus didorong dengan basis material yang tersedia seperti sekarang ini. keberhasilan dari menjawab pertanyaan krusial ini akan sangat menentukan bentuk politik kelas seperti apa yang akan muncul. Dalam hal ini, penulis tidak memiliki preskripsi atau resep generic tertentu. Untuk itu, pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan praktik serta aktifitas perlawanan bersama dalam rakyat pekerja itu sendiri.

Sepi TanpaMu,,,

Selamatkan aku dari siksa sepi ini, dari jeruji dengki yang datang tanpaku harap..aku tak berharap kau disini, seolah jengah mengingatmu, trlalu pilu bila ku membayangkanmu..tolong bungkam lelahku,, tapi aku tak inginkan pelukmu itu..meski rindu masih disisi, namun hambar menguasaiku.. 

Simpan rayumu,tak perlu meronta seakan kau pahami sesakku... 
Karna kasih yg kau punya hanya ilusi.. 


Ketika lagumu tak lagi terdengar merdu, kau tak punya rasa utuk bersenandung... 
Kau membeku seiring janji, mati dan terbunuh perlahan karna dusta... 
Kau takkan rindukan siapapun, hati manapun takkn luluhkanmu... 
Kau jengah,malu pada tangis,sesak pd bahagia... 


Meski kau tak berkata, tapi hati dirajai lelah..Aq msh merindukanmu sprti dlu, meski kini tak terselingi airmata.. 
Aq msh memimpikanmu saat lelapku, berandai kau datang untukku... 


Aq selalu menginginknmu, berharap bersandar dipundakmu dikala sedih menyayat.. 
Dan Aq msh slalu meminta Kesudian Tuhan menjaga hatiku..

Catatan hati dari "My Lovely"

..jauh,

..aku yang membuat jarak-jarak itu, aku yang menginginkannya, aku yang menorehkan garis jarak itu, aku yang membuatnyaa..

Jangan salahkan waktu atau apapun yang bergerak didekatmu..sebab aku yang menginginkannyaa,
memang seperti iniilah aku..krna ini yang tlah terbiasaa, jika jenuh sungguh tlah terlintas dibenakmu hempaskan segalanya..aku tak kan menahannyaa, meski aku tak mengharapkannya tpi aku kan mmbiarkannya..

..seperti ini hati ku,
gambaran tentang kerasnya watak seorang gadis yang tak memahami arti kebersamaan ituu, meski seribu kali hati menginginkanmu namun raga terus berlarii, bukan sebab tak pasti hnya krna angkuhnya jiwa yang seolah tak membutuhkan rasaa..

Serasa tak mngenal raga mu..kubiarkan hati berlarut dlm rayu hangatmuu, aku menginginkanmu lbh dari yg ku tau..berharap bersandar dibahu indahmu kala jengah melanda bermimpi terlelap dlm dekapan hangat wangi tubuhmuu..
Maaf jika lelah harus menyapa hatimu, lagiii..